Ok. Its time to get into some serious topic.
Fyi, di pb2008 kemarin terdapat forum-forum kecil berisikan topik yang menarik. Satu forum yang gw ikuti disponsori oleh Kementrian Budaya dan Pariwisata Indonesia dengan tema “Blog dan Turisme: sebuah paduan masa depan”.
Forum yang di moderatori oleh perwakilan Kementrian Budaya dan Pariwisata Indonesia ini terdapat 3 blogger asing yang menjadi special guest di pb2008, plus ada Trinity dari Naked Traveller, dan seorang perempuan yang gw lupa namanya.
Di forum ini gw dapet istilah Tourism 2.0 dari sang moderator. Pada pembukaannya sang moderator menjelaskan bahwa model publikasi/promosi tempat wisata tidak lagi top-down seperti dulu.
Top-down: Pemerintah (government) sebagai pihak teratas yang bertanggungjawab untuk melakukan publikasi/promosi tempat wisata. Model top-down inilah yang gw asumsikan dengan Tourism 1.0.
Lalu apa itu Tourism 2.0 ?
Tourism 2.0 adalah sebuah model publikasi/promosi tempat kunjungan wisata dimana yang melakukan publikasi/promosi tersebut bukan lagi hanya pemerintah, tetapi ada entitas-entitas (baik individu maupun kelompok) lain yang melakukan hal itu horizontally (sejajar).
Sempat terbersit bahwa Tourism 2.0 ini adalah hybrid dari New Wave Marketing, silahkan baca Navinot edisi awal bulan ini.
Arah diskusi juga sempat lari kesana-kemari setelah beberapa audience menyinggung bobroknya divisi pariwisata dari pemerintahan. Untungnya Trinity jeli serta meluruskan bahwa diskusi ini bertujuan mencari korelasi antara Blog dan Turisme itu sendiri, bukan membahas isu bobroknya pemerintahan.
Beberapa kali special guest memberi tips dan trik yang menarik dalam membuat travel blog (ini sebutan untuk blog dengan konten yang membahas perjalanan wisata, cth: Naked Traveller).
Moderator juga memperkenalkan www.indonesia.travel, produk lain dari Kementrian Budaya dan Pariwisata Indonesia. Plus, katanya bakal ada sayembara dengan model penulisan tentang isu tempat wisata. Kita tunggu saja tanggal mainnya.
Kalau tidak salah dengar sih, produk yang satu ini belum grand launch. yang ada di www.indonesia.travel pada saat tulisan ini dibuat masih versi yang lama.
Selama diskusi berjalan, gw menyusun beberapa poin yang akan gw bangun menjadi pertanyaan utuh dan beberapa saran. Tapi sayang, karena gw dapat kesempatan di penghujung acara, jadi gw merasa kurang puas karena tidak mendapat respon –baik dari moderator, audience maupun special guest.
Pertanyaan gw saat itu (yang dengan amat sengaja gw buat dalam Bahasa Indonesia –karena sadar kemampuan):
“Apa strategi dari www.indonesia.travel di tahun 2009?”
Gw pengen tahu apakah blogger Indonesia mendapat porsi dalam strategi itu.
Berdasarkan ide kontes yang akan dilakukan www.indonesia.travel, gw lanjutkan ke saran gw:
“Untuk bisa menarik wisatawan asing, www.indonesia.travel membutuhkan tulisan yang persuasive, saya sarankan buat kontes yang bukan sekali jalan, tapi konsisten, misalnya tiap 3 bulan sekali, untuk mendapatkan tulisan-tulisan terbaik dari rekan blogger Indoensia. Lebih jauh lagi, www.indonesia.travel bisa mendapatkan penulis-penulis berbakat dari ajang tersebut. Pihak www.indonesia.travel sendiri bisa membuat semacam guideline untuk membuat tulisan tersebut, agar berbobot dan professional.”
Pada saat gw mengeluarkan pertanyaan ini, ada seorang ibu-ibu dari pihak Kementrian Budaya dan Pariwisata Indonesia yang tertawa –seolah-olah impossible melakukan kontes rutin sebagai agenda kolaborasi pemerintah dengan blogger dalam membangun lini promosi lokasi kunjungan wisata–. Tanya kenapa.
Lalu kalimat terakhir yang gw sodorkan, karena mereka juga membahas isu fotografer ketika diskusi:
Sama halnya dengan penulis, saya rasa www.indonesia.travel bisa mencari fotografer terbaik dengan mengadakan kontes. Jadi tidak perlu outsource.”
Satu hal yang tidak tersebut oleh gw adalah: apakah mereka pernah main ke fotografer.net?.
Bahkan pihak www.indonesia.travel bisa jauh lebih kreatif lagi dengan mengadakan kontes fotografi/penulisan khusus untuk turis yang datang ke lokasi wisata di Indonesia. Bukankan itu jauh lebih efektif lagi? Karena yang menulis review / memfoto nya adalah turis asing itu sendiri.
Well, mungkin terlalu jauh. Tapi dengan lebih kreatif, pihak pemerintah bisa melirik para blogger lokal untuk bisa maju bersama di masa yang akan datang (baca: 2009).
~
Sebagai penutup, gw yakin banyak (minimal: ada) orang-orang di pemerintahan kita yang memang punya itikad baik untuk maju bersama. Dan kalaupun mereka (tanpa-sengaja) membaca tulisan gw ini, yakinlah bahwa banyak (minimal: ada) blogger Indonesia yang sukarela membantu tanpa imbalan (seperti yang diucapkan salah satu audience dari Yogyakarta).
Banyak cara kalau memang benar-benar beritikad untuk maju; salah satunya adalah pendekatan ke komunitas blogger online, salah duanya: kontes yang khusus blogger, salah tiganya: kontes khusus wisatawan asing, salah banyaknya: tanya orang Bali, tanya bagaimana caranya mereka bisa begitu harmonis membina hubungan dengan wisatawan asing, lalu gunakan cara mereka ke daerah wisata lain di Indonesia.
Semoga berguna.