aftermath
Beberapa hari lalu gw naik angkutan umum menuju Bintaro yang kemudian terjebak kemacetan di jalur Lebak Bulus - Gintung. Angkutan umum itu penuh dengan ibu-ibu, mba-mba, dan anak-anak yang naik di perempatan Pasar Jumat. Gw perhatikan tidak satupun dari mereka yang luput dari noda lumpur. Ternyata mereka baru ‘berwisata’ dari lokasi bencana Situ Gintung.
Saat itu matahari Jakarta dan polusi dari kendaraan bermotor seakan-akan tahu betul cara menyiksa manusia. Tapi sepertinya cuma gw yang merasa tersiksa. Para peserta tour-de-situ-gintung tadi seperti tidak merasakan bahwa angkot tersebut panas dan udara yang begitu kotor. Bukannya memilih diam untuk mengurangi kegiatan yang tidak perlu, malah bisa-bisanya memulai sebuah diskusi tingkat tinggi a-la debat yang sering kita lihat (atau cuma gw doank yang sering lihat?) di televisi.
Para peserta tour-de-situ-gintung mendadak merasa jadi paling tahu dan paling ‘in’ tentang kondisi Situ Gintung. Beberapa topik yang sempat gw simak antara lain: penjelasan sebab-musabab tanggul tersebut bisa jebol (topik ini disajikan dari sisi paling logis dan ilmiah sampai yang paling mistik), diikuti pembahasan terkait sumbangan masyarakat (yang takutnya tidak sampai ke tangan korban bencana). Lalu, gw ga tau siapa yang menginisiasi, tiba-tiba saja sektor politik, isu pemilu, dan isu caleg meramaikan bursa diskusi (yang bener-bener panas!) tersebut. Topik yang terakhir ini yang benar-benar seru. Tapi sayang, gw ga mau bahas itu disini.
Gw yang awalnya bertekad untuk sabar dan bertahan akhirnya menyerah terhadap keadaan (hallah). Gw memutuskan turun, lalu menyeberang ke jalur berlawanan, dan mengambil jalur memutar menuju Gintung.
Lesson learned:
1. Jangan pernah berwisata ke lokasi bencana. Siapa yang bisa menduga kalau nanti malah nambah korban? -_-
2. Jangan pernah melewati jalur yang berada dekat lokasi bencana. Ya! Macet total!
3. Jangan mau jadi caleg, ntar di omongin yang engga-engga sama ibu-ibu di angkot.
Peace out.
ps:
Kemarin gw sempat liat salah satu spanduk di posko bantuan korban bencana di pinggir jalan yang isinya malah foto caleg, nama partai, dan nomer urut-nya!.
Spell it after me: s-u-c-k-s.


s-u-c-k-s -> kampret
bukan cuma caleg doank yg diomongin,,,artis juga. ya gw sendiri sih ga keberatan diomongin selama itu yg baik2,,,,
Comment by [H] — April 3, 2009 @ 1:29 pm
ngeq!!!
biasalah ibu2 emang suka ngomongin dari seleb ampe caleg wkwkwkwkw….
gw jg heran sama orang indo.. kenapa ya,, tempat bencana alam malah di jadiin objek wisata? *doh*
Comment by kielutcu — April 3, 2009 @ 2:29 pm
mungkin bukan wisata.. tapi mereka pengen tau aja… ya kayak aku.. tapi waktu belum ada yg cocok untuk melihat langsung ke lokasi… apalagi dulu pernah hunting disekitar TKP.. jadi seperti ada keterikatan emosi…
Comment by marina — April 3, 2009 @ 5:08 pm
Waah… aturan elo foto tuh yo yg kaya begitu… trus masukin di situs2 kaya’ janganbikinmalu2009.com… hehe..
Comment by deche — April 3, 2009 @ 7:48 pm
can’t wait for the voting season to be over … gerah ngeliat foto foto caleg di jalan .. setiap jarak 1, 2, 3 meter, dimana ada tiang dan tembok, selalu ada polusi foto.
Comment by Bagsholic — April 4, 2009 @ 11:48 am
hehe…
nice info
Comment by ArieL, FX — April 16, 2009 @ 1:41 am
Leoooo.. lu ngintip2 blog gw yah kok tau alamatnya itu, tp di blogroll lu bukan yg itu blog gw nyah…
Comment by poetz — May 27, 2009 @ 10:11 pm